Taman Nasional Sembilang

crisp-nus-edu-sg

crisp-nus-edu-sg

Taman Nasional Sembilang terletak di Kabupaten Musi Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan. Dengan luas 2.051 km². Sebelah Barat Laut Taman Nasional Sembilang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Berbak yang berada di Provinsi Jambi.

Ekosistem Taman Nasional Sembilang terdiri dari Hutan Rawa Gambut, Hutan Rawa Air Tawar hingga Hutan Riparian (tepi sungai) yang banyak ditumbuhi berbagai jenis tanaman darat dan air seperti gajah paku (acrostichum aureum), nipah (nypa fruticans), cemara laut (casuarina equisetifolia), pandan (pandanus tectorius), laut waru (hibiscus tiliaceus), nibung (oncosperma tigillaria), jelutung (jelutung), menggeris (koompassia excelsa), dan gelam tikus (syzygium inophylla).

Hutan Mangrove Taman Nasional Sembilang (sumber: superadventure.co.id)

Hutan Mangrove Taman Nasional Sembilang (sumber: superadventure.co.id)

Taman Nasional Sungai Sembilan dengan mangrovenya menjadi tempat perkembanganbiakan dan pembesaran bagi beberapa spesies hewan khususnya udang.

Sumber: adeevatravel.blogspot.com

Sumber: adeevatravel.blogspot.com

Lokasi daerah-daerah pantai/hutan terutama di Sembilang dan Semenanjung Banyuasin merupakan habitat harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), tapir (Tapirus indicus), siamang (Hylobates syndactylus syndactylus), kucing mas (Catopuma temminckii temminckii), rusa sambar (Cervus unicolor equinus), buaya (Crocodylus porosus), biawak (Varanus salvator), ikan sembilang (Plotusus canius), labi-labi besar (Chitra indica), lumba-lumba air tawar (Orcaella brevirostris), dan berbagai jenis burung.

sem14

Jenis burung yang ada antara lain blekok asia (Limnodromus semipalmatus), trinil tutul (Pseudototanus guttifer), undan putih (Pelecanus onocrotalus), bluwok putih (Mycteria cinerea), bangau tongtong (Leptoptilos javanicus), dara laut sayap putih (Chlidonias leucoptera), dan lain-lain.

Yang menarik, Taman Nasional Sembilang merupakan tempat persinggahan bagi burung migran asal Siberia setiap bulan Oktober-Desember. Ribuan burung migran yang singgah mencapai puncaknya pada bulan Oktober. Gemuruh suara burung-burung tersebut terdengar pada saat terbang bersamaan, menutupi suara debur ombak Selat Bangka.

Taman Nasional Sembilang merupakan lokasi dimana ditemukan burung migran yang paling banyak. Sedikitnya ada sekitar 25 hingga 27 jenis burung migran yang singgah di semenanjung Banyuasin pada bulan September-Januari setiap tahunnya. Taman Nasional Sembilang sangat penting bagi kehidupan burung-burung migran, sebagai tempat tujuan yang jauh di luar habitat asli burung untuk menghindari perubahan kondisi alam yang ekstrim di habitat asal mereka.

Ancaman Bagi Taman Nasional Sembilang

Pembalakan liar (illegal logging) yang semakin marak ditambah kebakaran lahan, membuat kelestarian kawasan Taman Nasional Sembilang semakin terancam. Tahun 2015 lalu saat musim kemarau, satelit mendeteksi adanya 22 ribu hektar lahan terbakar  di Taman Nasional Sembilang.

Hutan Taman Nasional Sembilang yang telah dirambah (sumber: sumex.co.id)

Hutan Taman Nasional Sembilang yang telah dirambah (sumber: sumex.co.id)

Balai Besar Taman Nasional Sembilang mencatat dari total luas lahan, ada 12.286,67 hektar yang masuk zona rehabilitasi.

Yang menjadi sasaran pembalakan, tentu saja pohon-pohon kayu yang memiliki nilai komersial, seperti meranti untuk dinding rumah, punak untuk atasan (kuda-kuda) atau tiang, petaling untuk kusen, merawan untuk daun pintu/perabot rumah, medang dan tembesu. Kayu hasil tebangan dijual antara Rp 600-800 per kubik untuk jenis seperti petaling, khusus merawan Rp1 jutaan. Kayu itu dijual kepada cukong dengan biaya angkut Rp300 ribu per kubik. Dari para cukong, kayu-kayu itu dijual mahal. Seperti meranti, punak, petaling, merawan sekitar Rp1,8 juta-Rp2,2 juta per kubik. Kayu tembesu dijual hingga Rp6 jutaan. Pembelinya dari Jambi, Palembang, bahkan sampai Jakarta. Dapat dilihat, siapa sesungguhnya yang paling banyak mengambil keuntungan dari illegal logging.

Para pembalak tentunya sudah mengetahui bahwa mengambil kayu di Taman Nasional Sembilang dilarang, namun karena kebutuhan hidup, mereka beramai-ramai membalak hutan. Sederhananya, bila butuh uang, pohon ditebang. Mereka masuk kawasan Taman Nasional melalui jalan-jalan tikus yang sengaja dibuat.

Kawasan Taman Nasional Sembilang memiliki 2 zona, yakni zona budi daya dan zona lingdung. Zona budidaya dapat dikelola dan dimanfaatkan warga dengan syarat, yang ditanam adalah tanaman keras seperti karet. Zona lindung tentunya harus dijaga, namun saat ini zona lindung sudah dijarah oleh pembalak dan sebagian ditanami sawit.

Sayangnya, penegakan hukum terhadap para pelaku pembalakan liar belum dilakukan sebagaimana mestinya. Kasus illegal logging misalnya, konon tak pernah sampai Pengadilan. Pelaku penyelundupan kayu ilegal juga tak merasa takut kepada aparat. Nasib keanekaragaman hayati di Taman Nasional Sembilang tengah dipertaruhkan.

sumber: traveluxion.web.id, sumeks.co.id, sriwijaya.tv